Perasaan menyesal sering hinggap ketika menyadari bahwa tempat yang aku pilih terlalu jauh dari "kerumunan" teman-teman masa SMA. Untuk pulang saja harus menempuh perjalanan 8 hingga 10 jam. Tentu dengan waktu tempuh yang tak sebentar, tak bisa leluasa untuk melepas rindu bersama keluarga. Tapi inilah pilihan yang aku tentukan sendiri. Tak ada tempat untuk mengeluh. PilihanNya memang misterius, tak terduga, bahkan terkadang tak sesuai keinginan.
Dan Allah seperti menunjukkan kepadaku mengapa aku kini harus berada disini, di Surabaya, dengan mempertemukan aku bersama orang-orang inspiratif di setiap perjalanan, baik perjalanan pulang maupun perjalanan berangkat ke Surabaya. Mulai supir taksi hingga anggota TNI. Dan semuanya menyampaikan pesanNya yang hampir sama, "kamu ada di tempatmu seharusnya , Dik" atau mungkin "ada manfaatnya kamu disitu sekarang , Dik"
Yang pertama aku dipertemukan dengan seorang kepala dealer mobil cabang Purwokerto, kebetulan beliau orang Surabaya. Dengan penampilan yang sangat rapi dan menarik, bahkan beliau terlihat lebih muda dari usianya, penampilan khas eksekutif dengan karier cemerlang. Beliau menjelaskan apa yang sebenarnya seorang pimpinan inginkan dari anak buahnya. Cukup sekali perintah, inisiatif, dan tidak mudah puas. Ketika beliau tahu aku kuliah di ITS, beliau tersenyum, dan berkata "bagus, kamu orang Banyumas dan kamu ada di tempat yang benar. Kamu akan tertempa dengan karakter Surabaya, setidaknya tertempa melalui lingkungan sekitar kostmu. Contoh kecil, coba kamu tanya letak suatu tempat, minta dijelaskan arahnya. Mungkin pertama-tama kamu akan dimarahi, namun setelah itu kamu akan mendapatkan arah yang tepat sampai lokasi yang kamu tuju. Itulah karakter Surabaya, tidak pernah setengah-setengah." . Aku pun telah mencobanya, dan memang benar apa yang beliau katakan.
Lalu bertemu dengan supir taksi, di Surabaya. Awal percakapan kami adalah ketika aku melihat buku Berpikir dan Berjiwa Besar karya David J. Schwartz di dekat handrem mobil. Itu adalah buku yang sangat direkomendasikan oleh mas Wawan untuk aku baca saat aku menjadi ketua bharega, dan baru menemukannya saat mencari buku referensi untuk bekal kuliah. Aku meminta ijin pada beliau dan mengambil buku tersebut. Lalu aku buka halamannya secara acak, dan didalamnya penuh dengan "stabilo" berwarna merah pada setiap kalimat yang penuh makna inspiratif. Aku lalu berkata secara spontan "Wah ini buku yang saya cari-cari , Pak". Lalu beliau sambil tersenyum pun mulai bercerita tentang bukunya tersebut, "Dulu saya ini pegawai pabrik mas, saya bekerja sangat keras, selalu lembur, tapi hasilnya itu-itu saja. Lalu saya diberi seseorang buku itu. Saya baca, tiap ada kalimat-kalimat bagus saya stabilo. Dan saya pun memutuskan pindah jadi supir taksi. Kalau kita mau banyak uang, kita tinggal bekerja keras. Kalau mau istirahat ya tinggal istirahat. Hasilnya bisa sesuai kerja keras saya. Masnya juga ini orang Jawa Tengah ga salah kuliah disini, anak laki-laki ya harus berani." . Mungkin hasil yang beliau dapat tak sebanyak pegawai-pegawai kantoran diluar sana. Tapi beliau berani untuk keluar dari zona nyamannya. Beliau mengambil tindakan dengan prinsipnya yang kuat. Sebuah perubahan sederhana dengan pola pemikiran yang hebat.
Yang berikutnya aku bertemu dengan seorang kepala pengadilan negeri di kereta dalam perjalanan menuju Purbalingga. Beliau kebetulan asli Purwokerto, namun ditempatkan di luar Jawa, kalau tidak salah di Sulawesi. Beliau lebih banyak bercerita tentang masa mudanya dulu. Juga sesekali bercerita tentang pekerjaannya. "Pernah ya mas ada dua kasus, yang satu nyuri motor, yang satu nyuri apa saya lupa, misalnya mangga. Yang mangga saya sidangkan, saya vonis, yang motor tidak. Saya dimarahin warga habis-habisan, katanya pilih kasih, warga kecil ditindas. Padahal tidak mas. Saya sudah jelaskan kalau yang motor itu berkasnya tidak dikirimkan ke pengadilan, sedangkan yang mangga dikirimkan. Lha bagaimana saya menyidangkan pencurian motor kalau tidak ada berkasnya??? Saya bisa dituntut secara prosedur. Tapi mereka tetep emosi. Jadi masnya nanti kalau ada hal yang kurang "sreg" jangan langsung emosi ya mas, dicari dulu kronologi masalahnya. Belum tentu yang yang terlihat baik itu beneran baik mas, harus hati-hati." Pesan yang sangat baik, tetap tenang seberat apapun masalah yang dihadapi.
Dan yang terbaru aku bertemu seorang anggota TNI, dan spesialnya beliau ini perempuan. Baru pernah aku bertemu anggota TNI perempuan, karena yang aku tahu sebelumnya namanya anggota TNI itu ya laku-laki. Beliau bercerita banyak tentang masa-masa beliau seleksi hingga diterima menjadi anggota TNI. Juga bercerita tentang anak-anaknya. Yang aku dapat dari percakapan saat itu adalah "Bersyukurlah mas masih di perguruan tinggi negeri (PTN), walaupun jauh memang. Sekarang yang ndaftar snmptn berapa yang diterima berapa. Yang ndaftar jalur lain kaya mandiri berapa yang diterima berapa. Rejeki itu mas dariNya. Ga setiap anak beruntung masuk PTN. Disyukuri." Memang benar, dan nikmat dariNya terlalu banyak yang tak kusadari. Astaghfirullah.
Banyak hal lain juga yang aku dapatkan selama bertemu beliau-beliau ini. Mulai dari makan gratis sampai tidak bisa tidur sepanjang Surabaya-Purbalingga (hehehehehehe :p). Dan karena kuliah disini pula aku akan dapat kesempatan untuk pergi ke Pulau Bali. Sebuah impian yang nyaris hanya kata-kata belaka. Sebuah goresan mimpi yang telah aku coret, bukan karena berhasil aku capai, namun karena aku sudah hilang harapan untuk mewujudkannya. Masih lama memang saat itu tiba, masih banyak kemungkinan yang bisa terjadi, termasuk kemungkinan untuk gagal lagi. Namun aku tak akan berhenti berharap, berhenti berusaha, selama nafas ini masih ada. Bismillaahirrohmaanirrohiim.
Sekian
Tidak ada komentar:
Posting Komentar