Surabaya hari ini tak seperti biasanya. Hujan membasahi relung kalbu sepanjang hari. Gemercik air pun sanggup menenangkan hati. Namun disisi lain, raga tetap tak bisa berbohong. Dan satu buah apel dirasa cukup untuk malam ini, tanpa daya.
Terbaring disudut ruangan. Beralaskan busa yang tetap terasa nyaman seberat apapun beban yang dihadapi. Beratapkan kelambu yang selalu setia melindungi. Dan bercahayakan lampu neon yang berusaha bertahan ketika kekuatannya semakin menghilang.
Malam ini, malam rabu, malam yang selalu dinanti. Malam dimana semua hal tentang dunia ini seakan menghilang dari peradaban. Malam yang sanggup menyanyikan rangkaian nada lama. Membentuk memori yang selalu tersenyum, dan tak lupa memori yang selalu memaksa 'tuk kembali.
Memejamkan mata, memberanikan diri larut bersamanya. Larut dalam kegelapan. Hingga jantung pun terpaksa mengeluarkan seluruh kemampuannya, hanya untuk membawaku pulang. Namun sang memori mencengkram begitu kuat, menyisakan derai air yang merembes keluar. Keluar untuk melegakan hati. Dan aku pun semakin menyelami penyesalan-penyesalan ini, penyesalan dalam memori, yang tertahan tanpa arti.
Detik jam tak akan pernah bisa berbalik, seperti memori yang hanya bisa memaksa, namun tak kuasa 'tuk melawan. Maka hanya maaf yang sanggup menggambarkan, menggambarkan perasaan ini.
Sekian
Tidak ada komentar:
Posting Komentar