Lelah tanganku menggoreskan tinta itu…
Dengan sinar gelapku, ku tak mampu menyentuhnya…
Tinta itu terlalu suci untuk ku sentuh…
Lamban sampaiku karena perahu tak berlayar…
Dalami saat ini…
Dengarkanlah gemercik tinta…
Yang kau tuangkan padanya…
Ia bernyanyi menebar asa…
Ia buatmu tersenyum…
Karena senyummu sanggup menyinari apapun…
Laksana bulan menyinari malamnya…
Tak bermakna…
Namun berarti…
Perlahan…
Namun melangkah pasti…
Gemuruh tinta itu tak mampu ku tembus…
Senyumku kini telah berubah menjadi air mata yang tak kan pernah habis…
Bak air yang terus mengalir tanpa henti…
Jagalah mutiaramu…
Ia adalah harta…
Karunia…
Jangan biarkan ia terurai…
Usaplah…
Atau ijinkan Sang Merpati menghapusnya…
Menghapus dengan helaian sutra di sayapnya…
Dan senyummu bagaikan pedang…
Yang mampu menembus tembok baja…
Merontokkan benteng…
Dan mengobati rapuhnya jiwa…
Mutiara itu telah tertutup debu…
Dan tak lama lagi akan retak…
Haruskah ku relakan merpati cantik itu?
Dia akan terbunuh sia-sia…
Dengan duriku yang semakin tajam…
Sayapnya yang indah itu…
Akan terurai menjadi bulu halus yang tak terhitung…
Hujan kan menghapusnya…
Awan itu kini gelap…
Tapi tetap tulus hatinya…
Layaknya Sang Merpati…
Walau sayapnya tak seluas langit…
Namun ia rela melindungimu…
Jantungnya telah ia gadaikan…
Karena ia percaya kau akan menebusnya…
Untuknya…
Dan ia tau itu…
Hujan itu terlalu deras…
Air yang turun terlalu suci…
Bila ku paksa sentuh air itu…
Dia akan berubah menjadi gelap…
Awan itu kini telah berubah…
Menjadi petir yang terus menyambar hatiku…
Jiwaku…
Menghukumku yang kini semakin terpuruk…
Ia ingin bicara…
Namun tak sanggup…
Ia pun menangis…
Ia tak kuasa melihatmu terpuruk…
Karena kau adalah inspirasinya…
Sinarmu adalah pencerah…
Keluarkan…
Bila mungkin…
Pancarkan auramu…
Buatlah ia tersenyum…
Dengan senyummu…
Bahkan sucinya air pun akan luluh…
Menangis karena ku?
Aku terlalu hina untuk mendapatkan airmata darinya…
Ketulusan air matanya terlalu suci untuk ku usap…
Sinarku sekarang adalah musibah…
Dan tak ada yang mampu tuk melihat…
Karena ia tak peduli itu…
Luar hanyalah kulit…
Hatimu adalah kacangnya…
Dan hatimu membutakan matanya…
Ia tak rela kala menatapmu…
Kesucian air matanya akan mensucikanmu pula…
Terimalah…
Terimalah anugerah-Nya…
Aku sangat peduli…
Aku tak ingin ia menyesal…
Aku tak ingin ia sakit…
Hanya untuk orang yang tak berharga seperti diriku…
Kini…
Aku telah terlanjur kotor…
Noda dalam tubuhku tak layak untuk mendapatkan kesucian itu…
Air matanya…
Bak mutiara yang sangat mahal harganya…
Karena kau lebih…
Dalam hatinya…
Kau lebih dari sekedar yang kau pikirkan…
Ia merasa kehilangan…
Ia sendiri…
Sendiri dalam kawanannya…
Ia murung…
Ia pun tak ingin air matanya bercucuran…
Hanya untukmu…
Sangkarnya…
Mengurungkan sepi…
Menunduk…
Menanti seseorang…
Yang mau membukakan pintu untuknya…
to be continued...^_^
Tidak ada komentar:
Posting Komentar