Selasa, 07 Desember 2010

GORESAN TIADA HENTI eps. 1

Ku menunggumu disini…

Setialah menanti…
Aku akan datang membawa bintang untukmu…

Ku kan setia menanti disini…
Mana bintang yang kau janjikan?
Sepertinya bintang itu terlalu jauh hingga ku tak sanggup meraihnya…


Bentangkanlah hatimu…
Bebaskanlah…
Kan kau dapati pesona yang kau inginkan…
Kubawa serta mawar dan merpati itu…
Dan jagalah ia untukku…

Sayap hatiku begitu luas dan megah…
Hanya saja ruangan yang kau sediakan begitu sempit…
Hingga ku tak sanggup membentangkannya…
Dan duri dari mawar yang kau kirimkan hanya akan melukai sayapku…

Pejamkan matamu…
Raihlah tangan ini…
Akan kutuntun dirimu menuju surga itu…
Dan ijinkan kupu-kupuku menghisap nektar-nektar yang membanjiri relung hatimu…
Mengobati lukamu…
Dan menghiasi sayapmu yang indah…

Ku tak mampu lagi berjalan meraih tangan yang kau ulurkan…
Kakiku telah menapak erat tanpa kusanggup lagi mengendalikan…
Surga yang kau janjikan, hanyalah sebuah angan…
Tangan dan kakiku kini telah rapuh hingga ku tak sanggup lagi bertahan…

Sedikit lagi…
Dan kau bisa meraihnya…
Bahkan hatimu sekuat karang…
Andai kau tahu…
Lihatlah sanubarimu…
Malaikat-malaikat kecilku bernyanyi…
Mengirimkan sinyal-sinyal kekuatan…
Terimalah…
Dengan ketulusan hati…

Sampai kapan ku harus menanti tuk meraihnya?
Sampai ragaku benar-benar rapuh?
Hatiku terlalu keruh tuk bisa melihat malaikat-malaikat kecilmu…

Bukan untuk dinanti…
Ia tak datang…
Ia ingin diraih..
Merpati yang kukirimkan akan membawamu terbang…
Bersama bintang…
Yang menyinari dengan berkas cahaya bagai pelangi…
Mewarnai setiap sudut hatimu…

Entah bagaimana lagi ku uraikan betapa ku tak sanggup meraihnya…
Karena jari-jariku kini telah retak…
Merpati dan bintang yang kau kirimkan tak kan mampu menembus relung hatiku yang semakin redup…
Dan warna yang kau berikan tak akan mampu menutupi hitamku…

Tengoklah…
Sebuah titik terpenjara sepi…
Dalam ragamu…
Dengan potensi yang tak kau duga…
Lepaskan…
Biarkan ia mengambil alih hatimu…
Ia adalah kekuatan…
Ia adalah rona…
Ia adalah harapan…
Ia adalah intuisi…
Bahkan ia lebih gelap dari sang malam…
Tapi ia melegakan…
Dan kau tau itu…

Andai titik yang terpenjara itu dapat keluar tak bersyarat…
Dan potensi itu dapat ku raih tanpa berkelana…
Dia keluar bagaikan bulan yang butuhkan waktu untuk bersinar…
Bagaikan matahari yang butuhkan waktu untuk memancar…
Bagaikan air yang butuhkan waktu untuk mengalir…
Bagaikan pohon yang butuhkan waktu untuk berbuah…
Dan bagaikan angin yang butuhkan waktu untuk berhembus…
Hati yang kumiliki telah penuh dengan noda hitam yang ku tak sanggup menghapusnya…

Hawa…
Dia kan membawamu…
Dan ikutlah bersamanya…
Ikuti arusnya…
Ikuti ia mengalir…
Dan kan kau dapatkan muara…
Kelak…
Ia kan jadikan sinar…
Suatu saat…
Kan kau jumpai bebatuan tajam…
Namun tak kan terasa…
Karena malaikatku kan menjagamu…
Dengan perisainya…
Tinta emasmu kan terukir…
Dan noda pun akan tergerus olehnya…

Arus itu terlalu deras dengan ragaku yang semakin layu…
Ku tak mampu mendapatkan muara itu…
Dengan kabut hitamku yang semakin tebal…
Dan arah yang semakin tak menentu…
Noda itu telah menelan jiwaku…
Hingga tinta emaspun takkan cukup untuk menutupinya…

Teruskan…
Teruslah…
Teruskanlah…
Terus gores tintamu…
Tinta yang habis pun tetap membekas…
Walau ia tak berwujud…
Namun, ia meninggalkan jejak untukmu…
Tak kau sadari…
Mungkin…
Ada perahu untukmu…
Kecil memang…
Tapi ia ingin membawamu keluar…
Ia tulus…
Walau jernihnya tak sejernih nodamu…
Naiklah…
Ku angkat kau setinggi langit…

to be continued...^_^

Tidak ada komentar: