Siapa sih yang nggak kenal sama UKS SMA Negeri 1 Purbalingga? Pastinya bukan warga SMA N 1 Purbalingga lah.
Pada umumnya yang namanya warga SMA N 1 Purbalingga pasti tau tempat ini. Kenapa? Soalnya setiap ada yang dirundung kesusahan gara-gara sakit yang dipikul, dipanggul, diderita dan dirasakannya (kecuali sakit jiwa tentunya) tempat ini selalu jadi tempat pelarian bagi mereka, entah Cuma minta obat, plester, atau numpang tidur/istirahat (gratis lho...).
Ruangan yang sudah menembus kancah nasional ini memang ruangan yang paling nyaman yang ada di SMA N 1 Purbalingga. Gimana nggak nyaman, ada sebuah ruang perawatan (IGD/ICU/apalah terserah yang nyebut) yang luasnya hampir sama dengan luas satu ruang kelas dengan 8 buah tempat tidur yang dibagi dalam dua bilik --putra dan putri--, sebuah kipas angin, etalase obat dengan segala kelengkapannya, ada toiletnya pula. Diperluas lagi dengan sebuah ruangan yang digunakan sebagai ”kantor” yang luasanya sama dengan luas satu ruang kelas dengan segala kelengkapannya (termasuk satu set komputer). Semua fasilitas itu siap memanjakan si sakit apalagi ditambah petugasnya yang baik, cantik, tidak sombong, dan rajin menabung (siapa ya? Hehe... piss mba Gita.. ^^v)
Sebelum jadi semegah hotel, ruang UKS besarnya hanya seruang perawatan saja. Setiap kali hujan deras turun, bisa disaksikan ada air terjun yang tiba-tiba nongol di tembok deket washtafel (sekarang juga masih ding.. hehe). Eits, jangan salah gitu-gitu UKS itu cukup berprestasi juga lho... buktinya turut andil juga waktu LSS tingkat provinsi taun 2009 sehingga bisa menyabet juara I. Dan sekarang ada hiasan baru di sana, piala LSS, hasil karya para peker-peker (pekerja keras- pekerja keras).
Cukup deskripsi dan secuplik kisah singkat mengenai UKS. Ini dia bagian yang ”sweet” dari UKS. Apalagi kalo bukan ”penghuninya” yang cuteh-cuteh, baik-baik, ramah-ramah dan murah senyum (wkwkwkwk). Siapa lagi kalo bukan anak-anak PMR yang didaulat untuk mengurus dan melayani para pengunjung UKS. Hingga akhirnya secara tidak langsung kami menjadikan UKS sebagai ”tempat nongkrong” (karena nggak punya ruangan sendiri). Bagi orang-orang sepertiku yang pernah kekurung sampe malem di sekolah gara-gara penjaganya pergi kondangan, mungkin UKS sudah seperti rumah saja. Bahkan pada masa-masa BBPR (Belum Banyak PR) kami memaknai kata ”pulang” dengan pulang ke UKS. Masih inget masa-masa setelah sertijab hingga menuju Kesing ketika pulang sekolah UKS selalu penuh dengan Bhareganiezt dengan segala canda tawanya. Bagiku betah saja berlama-lama di sana, berkumpul bersama keluargaku walau melakukan hal yang sama sekali nggak penting. Kalau ada kegiatan malem, seketika saja UKS berubah jadi barak pengungsian bagi orang-orang yang butuh tidur.
Semua itu membentuk sebuah relasi dimana UKS telah menjadi saksi bisu bagi perjuangan kami. Gado-gado spesial lah pokoknya. Ada suka dan duka, dari tangisan sampe dagelan, dari rapat atau meeting sampe nggosip nggak penting, dari main monopoli sampe tepuk konsentrasi, dari meres keringat sampe istirahat, dari menemukan sampe menyelesaikan masalah, dari kegagalan sampe kesuksesan, dari perjuangan hingga melahirkan kebanggaan, dari kebersamaan hingga berubah menjadi kekeluargaan, penuh cita dan cerita, semuanya ada ketika kita bersama. Jejak-jejak keringat kita menetes di sana. Hingga berakhirlah masa jabatan ini setelah melewati segalanya bersama. Kini, penghuni UKS sudah berganti muka. Bukan lagi diisi oleh muka-muka angkatan 18 yang selalu sweet, tapi sudah digantikan oleh muka-muka yang lebih fresh. Berharap mereka mampu mengisi rumah ini lebih baik dari kami.
Missi terakhir : Mencetak generasi yang lebih baik daripada kami.
*Kutulis ini sebelum aku kehilangan rasa itu, namun satu hal yang pasti, aku tidak akan melupakan maknanya.
by. Hera Amalia Utami
Tidak ada komentar:
Posting Komentar