Selasa, 08 Maret 2011

Kepompong…Kupu-Kupu…

Aku masuk ke dalam sebuah ruangan. Sejenak aku terdiam, mengamati sekitar. Ku lihat kursi yang berjajar rapi, lampu yang menyinari setiap sudut ruangan, di bagian depan terpampang background yang besar, ada pula mimbar yang menatap ke arah penonton, pot-pot tanaman penghias ruangan pun tak luput dari pandangan. Lalu aku duduk di kursi yang telah disediakan, bersama para tamu undangan.

Acara dimulai. Pembawa acara beradu dengan microphonenya. Ia lalu memanggil satu per satu kandidat. Setiap kandidat yang mendapatkan kesempatan untuk tampil aku amati dengan saksama. Karena nasib satu tahun ke depan ditentukan disini, hari ini. Hingga tiba saatnya giliran untuk kandidat terakhir. Seorang perempuan berjilbab. Ia adalah seorang yang ceria dan mudah bergaul. Namanya adalah Finda. Aku kenal dengannya, namun tak begitu akrab. Sesekali kami berkomunikasi untuk membahas hal penting. Dan kali ini kulihat ia tampak gugup. Namun, ia masih sanggup melempar senyum sebelum mengucap salam. Ia menghela nafas panjang, mungkin mencoba mengontrol diri. Lalu ia mulai beraksi.
Ia memang tak cukup diunggulkan bila dibandingkan dengan kandidat yang lain. Tapi, ia mampu menggunakan kesempatan itu dengan sangat baik. Setiap kalimat yang terucap begitu jelas, lantang, dan percaya diri. Ia kini terlihat begitu tenang. Sepertinya ia telah mampu mengatasi keadaan dan tekanan yang ada. Hadirin pun seakan terbuai dengan penampilannya. Ruangan menjadi sunyi. Semua terdiam melihat presentasinya. Setelah selesai, senyum kepuasan keluar dari wajahnya. Dan disambut dengan tepuk tangan yang cukup meriah.
Voting dimulai. Dan benar, ia terpilih menjadi yang terbaik. Hadirin sangat antusias. Sekarang giliran kami maju untuk mengucapkan selamat. Saat aku berada tepat di depannya, aku melempar senyum, mengulurkan tangan, memberikan ucapan selamatku untuknya. Finda membalasnya. Ia tersenyum pula. Terlihat raut wajahnya menunjukkan ekspresi kebahagiaan dan ketakutan. Mungkin karena telah terbayangkan tanggung jawab besar didepan matanya dan harus dipikul pundaknya. Namun, baginya terlambat untuk mundur. Dan ia menerima itu dengan lapang dada.
Hingga suatu hari, aku berjalan melewati lorong panjang, aku melihat seseorang duduk termangu memandang ke arah taman. Sendiri. Aku berinisiatif untuk mendekat, karena perawakannya tak asing bagiku. Benar saja, itu adalah Finda. Ia tak terlihat seperti Finda yang biasanya. Ia menatapku dengan wajah murungnya. Seolah memberitahu bahwa ia sedang bersedih. Aku duduk disampingnya, mencoba mengetahui apa yang terjadi padanya. Awalnya ia tak mau, dan aku pun tak memaksa. Namun, akhirnya ia menceritakannya padaku. Walau disertai dengan sedikit tetesan air mata.
“kamu kenapa, Fin? Ada apa? Sini cerita saja…”, aku mencoba membuka pembicaraan.
“apa tidak apa-apa aku cerita?” balas Finda.
“iya, tenang saja.” kataku mencoba meyakinkannya.
“emmmm….begini, sepertinya aku memang tidak ditakdirkan sebagai pemimpin.”
“lho? Kenapa kamu ngomong begitu?” tanyaku heran mendengar ucapannya.
Memang, kami sempat berkomunikasi beberapa hari sebelum acara itu. Ia sebenarnya tidak begitu yakin bisa. Pada saat itu, ia hanya ingin memberikan yang terbaik yang ia bisa berikan. Dan tidak ada yang mengira bahwa akhirnya ia yang terpilih.
Lalu ia memulai ceritanya,
“kemarin, aku dapat tugas dari Pembina. Karena cukup banyak, aku bagikan kepada teman-teman. Aku meminta mereka membantuku. Tapi apa? Mereka justru segera beranjak pulang. Meninggalkanku dengan setumpuk hidangan itu.”
“mungkin mereka ada urusan?”
“tapi ini tak hanya sekali, berkali-kali!!”
“lalu kamu biarkan mereka pergi?” tanyaku.
“ya tentu tidak. Aku memohon kepada mereka agar tak buru-buru pulang. Tapi nampaknya mereka tak sedikitpun mendengar ucapanku. Mungkin suaraku hanya dianggap angin lewat. Kehadiranku tak terlihat. Satu per satu pergi dengan meninggalkan sejuta alasannya. Apa mereka tak tahu aku juga punya kepentingan pribadi? Kalau aku mau aku pun juga ingin pulang. Tapi, mereka tak mau mengerti posisiku. Baginya hidangan-hidangan itu hanya untukku.”
Tak ada keberanian sedikitpun bagiku untuk memotong ceritanya. Emosinya mulai memuncak. Jujur, aku merasa bersalah, karena telah mengingatkannya lagi akan kejadian itu. Namun, terlanjur sudah. Kini ku biarkan ia melampiaskan amarahnya padaku. Dan berharap itu cukup menenangkannya nanti. Ia melanjutkan ceritanya.
“apa ini yang namanya seorang pemimpin? Pemimpin pasti bisa mengendalikan rakyatnya. Tapi aku? Jangankan memimpin mereka, memimpin diriku saja aku tak bisa. Aku tak punya kekuatan. Aku tak punya nyali. Aku memang tak punya jiwa pemimpin. Aku payah.”
Wajahnya semakin memerah. Kini ia begitu marah. Aku mengerti betul kondisinya. Karena sedikit-sedikit pun aku pernah mengalaminya juga. Apalagi ia seorang perempuan, yang kata banyak orang memiliki emosi yang sangat labil. Sejenak kami terdiam. Lalu aku mencoba bicara pelan-pelan. Bahkan sangat hati-hati. Berharap aku tak salah ucap padanya. Yang bisa kulakukan hanya mencoba membangun opini positif untuknya. Dengan berkaca pada apa yang pernah aku alami dulu. Walau sebenarnya aku tak yakin ini akan bermanfaat baginya.
“oke, mungkin memang benar apa yang kamu katakan. Tapi, kamu juga harus ingat, merekalah yang memilihmu. Dan itu amanah.”
“mungkin mereka tak sengaja memilihku.” jawabnya dengan lugas.
“itu menurutmu. Tapi bagiku, mereka memilihmu karena mereka percaya padamu. Mereka yakin kaulah yang terbaik. Menjadi seorang pemimpin, yang mampu membimbing mereka. Membawa dan menuntun mereka. Dan bersama-sama mewujudkan mimpi. Untuk menjadi yang terbaik.”
Lalu yang ku terima sekarang? Apa? Kenapa seperti ini? tanya Finda.
“aku percaya kamu telah berusaha melakukan yang terbaik. Tapi seorang pemimpin tak selamanya menjadi sosok yang harus dipatuhi dan harus dihormati. Kita harus melihat segala sesuatunya lebih luas. Sekarang aku ingin bertanya, apa kamu ingin mereka mengerti kondisimu?”
“iya” jawab Finda.
“lalu, apakah kamu sudah mencoba mengerti bagaimana kondisi mereka yang sebenarnya?”
Finda terdiam. “Mungkin aku salah ucap” pikirku dalam hati. Tapi, entah mengapa aku ingin terus mengatakan ini padanya. Maka kuberanikan diri untuk terus berbicara.
“ada kalanya seorang pemimpin harus membuang jauh-jauh gelarnya dan mendekat pada rakyatnya. Cobalah buka hatimu, cobalah untuk mengerti bagaimana kondisi mereka yang sebenarnya. Barang kali saja mereka sedang mengalami sesuatu yang lebih parah darimu, dan kau tak tahu. Mendekatlah pada mereka secara lebih personal. Coba bicara dari hati ke hati. Jangan pakai emosi. Dan kau akan meraih hatinya. Bila kamu mau mencoba memahami kondisi mereka, lama kelamaan mereka akan memahami kondisimu juga.”
Tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya. Entah aku yang salah ucap, atau justru ia yang merenungi kata-kataku tadi. Hingga tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul setengah 5 sore.
“ayo, kita pulang. Sudah sore.” ajakku padanya.
“iya” jawabnya dengan singkat.
Sejak saat itu, aku mulai jarang mampir ke sekretariat. Namun, kulihat kini situasi mulai kondusif. Ruang sekretariat sudah ramai oleh anggota-anggotanya. “Ternyata kata-kataku mujarab juga, hahaha…” pikirku. Dan kami tetap menjalin komunikasi dengan baik. Setiap hari kami saling mengirim pesan singkat. Untuk berbagi pikiran atau bahkan untuk sekadar mengobrol. Sesekali pula kami bertemu di ruang sekretariat. Tak terasa hatiku ini mulai memendam rasa padanya.
Suatu pagi kami bertemu. Aku beranikan diri dan memanfaatkan kesempatan itu untuk menyatakan perasaan ini padanya. Ia terkejut. Sebenarnya ia tak menolak. Karena ia ternyata memendam rasa yang sama. Namun, ia tak lantas mengiyakan. Lalu aku bertanya,
“kenapa?”
“masih ada seseorang yang membutuhkan perhatian lebih dariku. Saat ini.” jawabnya.
“siapa? Boleh aku tahu?” tanyaku dengan cemas.
Dan ia menjawab, “mereka..”.

Tidak ada komentar: