Stres atau tekanan batin merupakan salah satu penyakit hati yang sering kita jumpai. Setiap orang pasti pernah atau akan mengalaminya. Akan tetapi, dampak yang dirasakan mungkin berbeda antara satu orang dengan orang yang lain. Karena daya tahan fisik dan mental masing-masing individu tidaklah sama.
“Setiap orang ada kemungkinan dihinggapi stres. Akan tetapi kekuatan masing-masing berbeda. Karena itu, akibat yang diderita pun tentu berbeda-beda pula. Misalnya, jadi pendiam atau ada yang ingin keluyuran.” (Edward Zoelfardi, 2008:76)
Remaja tentu saja sangat berpeluang mengalami tekanan pada batin mereka. Oleh karena itu, melalui tulisan ini penulis bermaksud untuk memberikan sedikit pandangan tentang cara menyikapi stres secara positif bagi remaja.
Banyak hal yang bisa menyebabkan remaja menjadi stres. Seperti pada buku Psikologi Remaja karya Sarwono (2007:112), stres pada remaja dapat disebabkan karena orang tua yang terlalu banyak menuntut serta pelajaran sekolah yang berat dan padat. Keinginan besar orang tua memang terkadang tanpa melihat potensi dan kemampuan anaknya sendiri. Si anak, atau dalam hal ini remaja, akan merasa bersalah dan gagal bila tidak bisa mewujudkan keinginan orang tuanya. Disinilah tekanan batin pada remaja muncul secara perlahan. Apalagi bila keinginan tersebut tidak sesuai dengan minat, bakat, dan kemampuannya. Remaja akan merasa tertekan, lalu stres pun datang. Sarwono (2007:118) juga mengatakan bahwa kesenjangan antara orang tua dan anak akan membuat si anak mencari pelarian yang cenderung negatif. Perbuatan tersebut merupakan respon atas tekanan yang dirasakan oleh remaja karena tuntutan orang tuanya. Mereka mencoba lari dari kenyataan dan melampiaskannya dengan berbagai cara. Contohnya adalah kebut kebutan dan minum minuman keras. Padahal, masalah bukan untuk dihindari, tapi untuk dihadapi.
“Melarikan diri dari masalah tidak akan menyelesaikan persoalan. Bahkan kita bisa terjerumus ke persoalan lain yang lebih rumit.” (Sarlito Wirawan Sarwono, 2002:88)
Kini saatnya kita sebagai remaja mengubah penilaian tentang stres. Kita harus bisa melihat stres dari sisi yang berbeda. Karena tak selamanya stres membawa dampak negatif bagi remaja. Kita harus melihatnya lebih luas lagi. Itu akan membuat kita menjadi dewasa dan berjiwa besar, serta lebih kuat dalam menghadapi berbagai masalah yang ada.
“Stres dapat dimanfaatkan secara positif, misalnya berlatih menyelesaikan masalah meskipun untuk ini seseorang harus berkonsultasi kepada orang lain. Ini merupakan salah satu jalan untuk menjadi dewasa.” (Edward Zoelfardi, 2008:95)
Kita bisa memulai dengan mencoba berfikir bahwa orang tua menuntut lebih kepada kita karena mereka ingin yang terbaik untuk kita. Mereka ingin masa depan kita terjamin. Mereka ingin kita lebih baik lagi. Jadikan tuntutan mereka sebagai motivasi untuk menghasilkan prestasi. Buktikanlah bahwa kita mampu, dan buatlah mereka bangga kepada kita. Walau semata-mata hanya sebagai ucapan terima kasih kepada orang tua kita atas segala kasih sayangnya. Lalu cobalah untuk lebih terbuka, baik kepada orang tua maupun kepada orang kepercayaan kita. Berbagilah kepada mereka, mencoba untuk bertukar pikiran dan pandangan. Jangan merasa putus asa ketika orang yang kita ajak berbagi tidak mampu untuk mencarikan solusi. Karena bersama orang terdekat sebenarnya sudah cukup untuk menghindarkan diri dari stres yang berlebihan.
“Cobalah mengadu kepada orang lain yang kita percayai. Andaikan orang itu tidak mampu memberi jalan keluar, setidak-tidaknya beban batin kita menjadi lebih ringan.” (Sarlito Wirawan Sarwono, 2002:101)
Menyikapi stres secara positif sangatlah bermanfaat bagi remaja. Remaja akan menjadi lebih dewasa, berjiwa besar, dan lebih kuat dalam menghadapi berbagai masalah yang akan menghadangnya. Sikap terbuka kepada orang tua, orang terdekat, atau orang kepercayaan akan membantu kita menghindarkan diri dari stres yang berlebihan.
Daftar Pustaka
Sarwono. 2007. Psikologi Remaja. Bandung : PT. Bumi Siliwangi
Sarwono, Sarlito Wirawan. 2002. Stres pada Remaja dan Penanggulangannya. Jakarta : Psychology Press
Zoelfardi, Edward. 2008. Manajemen Stres. Jakarta : PT. Gramedia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar