Kamis, 22 September 2011

Mereka yang Memilihku..

Sedikit tergelitik ketika aku membaca notes dari mas vico dan tulisan mba leli tentang Bharega, aku pun ingin menggoreskan sebuah kisah, dimana aku men-transformasi-kan diri menjadi "dika" yang sesungguhnya...ya, tentang Bharega :)




saat MOS SMA dulu, ada sebuah acara yang sangat ditunggu tunggu, yaitu promosi ekskul. Ajang dimana semua ekskul di SMA mengerahkan semua tenaga untuk memikat hati siswa baru, tentu saja agar mau bergabung dalam ekskul tersebut. Aku duduk dibelakang bersama teman-teman karibku, hampir bersandarkan tembok. Satu persatu ekskul tampil, namun belum ada yang menarik perhatianku. Kebetulan aku dan teman-teman adalah kawan satu band di SMP, karena bingung, dan setelah lama berembug, jadilah kami ikut ekskul band, demi mengisi form, hehe...

Setelah kurang lebih 2bulan berjalan, teman-teman berpindah haluan ke ekskul yang paling populer dan terbesar di SMA, yaitu ekskul 5P. Awalnya aku tak tertarik, namun ada teman yang berkata padaku, kalau ga masuk 5P itu rugi. Jadilah aku mulai memilah milah untuk masuk ke salah satunya. Sempat tertarik dengan Pasga, namun posturku tak memungkinkan untuk bersaing disana. Pramuka dan Kopasga, namun ada rasa "ngeri" yang besar ketika ingin mengikutinya. PPA Gasda, namun aku takut ketinggian dan tidak diijinkan oleh orang tua. Tak sengaja aku membuka friendsterku yang sudah lama non-aktif. Aku melihat ada posting dari mba leli, teman les b.inggris saat aku kecil dulu. Lalu kami smsan, dan ia menawariku masuk BHAREGA. Awalnya aku tak tau Bharega itu apa, namun setelah dijelaskan akhirnya aku paham bahwa bharega itu PMRnya SMAN 1 Purbalingga. Aku sempat tertarik, namun rasa minder muncul. Aku sama sekali tidak punya basic PMR di SMP, paling banter ya dokter kecil semasa SD dulu. Dan karena saat itu aku butuh tempat untuk mengisi waktu, membuatku menyibukkan diri, aku putuskan untuk ikut BHAREGA. Hal tersebut menjadi berita yang menggemparkan bagi teman-temanku, mereka tak menyangka aku memilih Bharega, dan mempertanyakan alasanku masuk kesana. Namun aku hanya tersenyum saja.

Kegiatan demi kegiatan aku jalani di Bharega. Semakin lama aku semakin kerasan disini. Aku semakin yakin bahwa keputusanku tepat. Hingga tiba saatnya ketika aku dipilih menjadi ketua Bharega periode 2009/2010. Aku dan teman-teman diberi ruang yang luas untuk mengeksplorasi diri. Kami bebas berimprovisasi dan berinovasi. Namun bebas yang bertanggung jawab. Mulai dari musang, saat dimana kami pertama kali mengkonsep acara. Disitu kami membuat format foto baru untuk ketua Bharega, format tersebut disetujui pembina dan bertahan hingga saat ini. Lalu saat ultah Bharega ke 18, dengan membagikan permen bertuliskan HUT Bharega kepada seluruh elemen SMA. Kami sempat disanjung warga SMA karena keunikan acaranya. Dan saat kemah tahunan, ketika kami mengajukan untuk membuat obor dari lilin, pembina juga menyetujuinya, asalkan kami harus siap dengan kemungkinan yang akan terjadi. Ternyata benar, inovasi yang kami lakukan gagal total. Namun sesuai pesan pembina sebelumnya, kami sudah menyiapkan minyak tanah untuk antisipasi. Dan kemah tahunan tetap berlangsung tanpa kendala berarti. Tidak hanya berinovasi, namun juga menghapus dan mengganti beberapa hal yang biasanya ada di kegiatan Bharega. Seperti penggunaan pita kuning, meminum ramuan jamu, dan mengganti peraturan kegiatan. Dimana kami rubah menjadi senior belum tentu benar, dan junior belum tentu salah. Hal tersebut diijinkan oleh pembina untuk kami hapus karena kami sanggup memberikan argumentasi yang kuat. Disini juga membuktikan bahwa kami tidak hanya bebas berinovasi, namun juga bebas menyampaikan pendapat. Sekali lagi, BEBAS YANG BERTANGGUNG JAWAB.

Ketika kami lulus SMA, kami masuk ke Yayasan BPW Center. Dimana semua alumnus Bharega tergabung disana. Kami biasa disebut BPW2011, angkatan termuda saat ini. Saat program kerja BPW Center akan direalisasikan, beberapa dari kami langsung dipercaya untuk menjadi bagian kegiatan ini. Di tahun pertama kami. Kami kembali diberi ruang untuk terus berkembang. Bahkan hanya hitungan bulan sejak kami menerima ijasah. Disini tidak ada senioritas. Yang tua membimbing yang muda, dan yang muda diberi kepercayaan untuk tampil.

Hal-hal tersebut yang menempa kami menjadi pribadi-pribadi unggul. Dengan belajar bagaimana membaca situasi, belajar bagaimana menganalisa permasalahan, belajar bagaimana memecahkan masalah bersama, belajar bagaimana mengambil keputusan-keputusan tepat, dan belajar bagaimana selalu berfikir "out of the box", berfikir diluar batas kewajaran pemikiran orang lain. Hingga aku bisa menemukan jati diriku yang sebenarnya. Aku bukanlah dika yang dulu. Dika yang mudah minder, penakut, pendiam, dan selalu ceroboh. Aku adalah DIKA. Dika yang berani berargumentasi, berani mewujudkan ide, dan berani mengambil keputusan. Lagi dan lagi, berani yang bertanggung jawab.

Terakhir,
aku masuk ke Bharega sebagai seorang bayi. Bayi tidak bisa memilih dengan siapa ia disana. Ia hanya menerima apa yang ada. Ia tak berdaya. Namun akan ada seseorang. Dimana ia akan membimbing bayi bagaimana cara berjalan. Bagaimana cara untuk berbicara. Seseorang itu selalu memberikan yang terbaik untuk bayi, tak ada niatan buruk dihatinya. Bukan untuk menjadi miliknya, namun agar ia bisa dimiliki orang banyak. Cara berjalan, cara berbicara, adalah warisan kecil tak ternilai darinya. Namun, apa jadinya kita tanpa warisan itu???


ini bukanlah tentang seseorang. Ini tentang satu kesatuan. Ini tentang BHAREGA.

Sekian..

2 komentar:

mohenjodaroo mengatakan...

PERTAMAX
kie tembe ngerti critane nyong -,- haha

Rahardika Nur Permana mengatakan...

mudeng??? :D